UANG SPP
Di sebuah desa, hiduplah sebuah keluarga kecil. Yang terdiri dari seorang Ibu dan dua orang anak. Mereka bertiga tinggal di sebuah gubug yang sederhana. Ibu Tiyem itu hidup tanpa seorang suami, karena telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dan hanya hidup bersama dengan kedua anaknya yaitu Ali dan Ani. Mereka berdua kini sedang menimba ilmu di sekolah. Ali yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SMP dan adiknya Ani duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Mereka setiap pagi pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak antara rumah ke sekolah mereka sekitar 1,5 km.Sedangkan Ibu mereka, Ibu Tiyem hanya bekerja sebagai buruh cuci yang tidak menentu. Sekarang ini Ibu Tiyem harus menjadi tulang punggung keluarganya, semenjak ditinggal oleh sang suami tercinta.
Suatu pagi, saat Ali dan Ani sedang bersekolah, Ibu Tiyem berangkat menuju rumah tempat biasanya Ibu Tiyem bekerja. Disana Ibu Tiyem bekerja mencuci pakaian tetangga yang biasa menjadi langganan Ibu Tiyem. Pada saat selesai menjemur pakaian walaupun tinggal 3 helai pakaian, Ibu Tiyem mendadak pusing kepala dan meminta izin kepada Ibu Mina, sang pemilik rumah untuk pulang kerumah. “Bu Mina, saya mau minta izin pulang, kepala saya mendadak pusing sekali !”tanya Ibu Tiyem. “Oh, ya silakan.” jawab Ibu Mina. “Tetapi tadi masih ada 3 helai pakaian yang belum saya jemur Bu !” tanyanya kembali. “Oo, nggak apa-apa kok bu, nanti biar saya sendiri yang menjemurnya.” jawab kembali Ibu Mina. Akhirnya Ibu Tiyem pulang kerumah dan langsung beristirahat agar sakit kepalanya sembuh.
Hari sudah menunjukan siang hari yang terik, Ali dan Ani langsung pulang kerumah. Di rumah, mereka berdua tidak menduga bahwa ibunya sedang berbaring di kamar. Mereka pun bingung kenapa ibunya tampak pucat sekali. “Ibu kenapa ?” tanya Ali. “Kepala ibu pusing nak, saat sedang bekerja di rumah bu Mina tadi !” jawab Ibu Tiyem. Kemudian Ali menyuruh Ani untuk membelikan obat sakit kepala ke warung sebelah. Dan setelah itu diberikan kepada ibunya untuk diminum. Ibunya bertanya “Kalian berdua sudah makan siang apa belum ?”. “Belum Bu.” Ani menjawab. “Ibu tadi belum masak, karena kepala ibu sangat pusing.” ujar ibunya. “Nggak apa-apa kok Bu, nanti biar Ani dan kakak masak sendiri.” jawab Ani.
Kini Ibu Tiyem sering sakit-sakitan. Hal ini menyebabkan Ibu Tiyem tidak bisa bekerja lagi. Sementara di sekolah, Ani diharuskan membayar uang SPP oleh gurunya, namun Ani menjawab bahwa ibunya belum memiliki uang untuk membayar. Ani diberi kesempatan 2 hari untuk melunasi uang SPPnya, jika dalam dua hari itu ia tidak dapat membayar, maka sekolah terpaksa mengeluarkannya dari sekolah. Saat pulang kerumah hati Ani sangat sedih bila tidak dapat bersekolah lagi. Dirumah, Ani memberitahu kakaknya bahwa ia harus segera melunasi uang SPP. “Kak, besok lusa Ani harus segera membayar uang SPP Ani, jika tidak Ani akan dikeluarkan dari sekolah ! Bagaimana ini, Kak ?” Tanya Ani kepada kakaknya. “ Iya dik, akan kakak usahakan uang untuk membayar SPP kamu.” jawab Ali menghibur.
Ali mencari jalan keluar, untuk mendapatkan uang. Ia berinisiatif untuk bekerja menjadi tukang semir sepatu sepulang sekolah, dan hasil bekerjanya nanti akan digunakan untuk melunasi uang SPP Ani. Suatu hari sepulang sekolah Ali menyiapkan beberapa alat semir untuk dibawanya bekerja. Setelah semuanya siap Ali langsung berangkat untuk mencari uang dengan menjadi tukang semir sepatu keliling. Hari sudah menandankan malam hari, sedikit demi sedikit uang yang Ali kumpulkan semakin banyak, dan Ali pun langsung pulang kerumah.
Keesokan harinya,
Ali dan Ani mempersiapkan perlengkapan sekolah. Tak lupa Ali memberikan uang hasil kerjanya kemarin kepada adiknya, Ani. “Dik, ini uang untuk melunasi SPP kamu yang belum lunas !” ujar Ali sambil menyerahkan uang kepada Ani. “Terima kasih sekali Kak, kakak memang kakak Ani yang sangat pengertian.”jawab Ani dengan hati senang.
Kemudian mereka berdua berpamitan kepada ibu mereka, ibu Tiyem untuk berangkat ke sekolah. Ibu Tiyem sangat terharu sekali dengan perjuangan Ali yang berusaha mencarikan uang untuk membayar uang SPP adiknya. “Bu, kami berdua mau berangkat ke sekolah !” sapa Ali dan Ani sambil mencium tangan ibunya. “Iya nak, hati-hati di jalan. Semoga kalian menjadi anak yang pintar dan patuh kepada orang tua !” jawab ibu Tiyem dengan perasaan terharu, melihat anak-anaknya berpamitan untuk pergi ke sekolah bersama.
Pada akhirnya kondisi ibu Tiyem berangsur membaik dan keluarga ibu Tiyem mendapatkan uang dan sembako dari beberapa tetangganya yang merasa simpati atas kondisi keluarga ibu Tiyem saat ini. Dan kehidupan keluarga ibu Tiyem semakin membaik dan segala kebutuhan dapat tercukupi atas bantuan dari tetangganya yang sangat baik. Kini Ali dan Ani dapat bersekolah tanpa harus memikirkan biaya sekolah mereka. Sehingga mereka dapat menjadi anak yang pandai guna untuk meraih cita-cita yang mereka impikan selama ini.
Unsur-unsur Intrinsik Cerpen :
♣ Tema : Pengorbanan seorang kakak terhadap adiknya
♣ Alur : Alur maju
♣ Tokoh : 1). Ibu Tiyem : sabar menghadapi kehidupan, baik dan sayang kepada anak.
2). Ibu Mina : baik dan ramah tamah
3). Ali : baik hati, patuh terhadap orangtua, pengertian dan penyayang
4). Ani : baik hati, patuh kepada orangtua, dan sabar
*). Semua tokoh dalam cerita tersebut ialah protagonis
♣ Setting : 1). Latar Waktu : - Pagi hari
- Siang hari
- Petang (menjelang malam hari)
2). Latar Tempat : - Rumah ibu Mina
- Rumah ibu Tiyem
- Sekolah Ani
3). Latar Suasana : - Mengharukan
- Menyedihkan
- Menyenangkan
♣ Sudut pandang : Orang kedua
♣ Amanat : - Tetaplah sabar meskipun kita sedang dalam cobaan
- Kita harus berusaha jika mengalami permasalahan
- Kita harus hormat dan patuh kepada orang tua
Created by Dimas Ariyadi/XB